Thursday, July 24, 2008

Menguak Alasan Pemprov Memindahkan Siswa Asal Papua dari Sekolah Penerbangan Lain

25 Juli 2008 04:28:34


Tidak Mau Ambil Risiko Karena Terbang di Papua itu Unik

Untuk menjadi pilot tidak mudah terlebih di area seperti Papua yang medannya begitu sulit dan cuaca yang tidak menentu sehingga butuh skill yang baik. Itu antara lain yang harus digaris bawahi dalam rencana rekruitmen calon Pilot asal Papua yang merupakan kerja sama antara Merpati Training Centre (MTC) dengan Pemprov Papua.

Laporan: RAHMATIA

Saat ini, Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Provinsi Papua sedang bekerjasama dengan Merpati Training Center (MTC) untuk menyekolahkan anak-anak Papua untuk menjadi pilot. Rencana itu, dibahas di DPRP yang ikut dihadiri General Manager Merpati Training Centre (MTC) Capt Asep Ekonugraha dan dipimpin oleh Wakil Ketua II DPRP, Paskalis Kossy, S.Pd, Kamis (24/7).
Memang kerja sama itu belum diaktualisasikan dalam bentuk MoU (Memorandum of Understanding), namun segala persiapannya di kedua belah pihak sejak beberapa bulan lalu sudah mulai dilaksanakan.
Kabag TU Dinas P dan P Provinsi Papua, Drs Paul Indubri mengatakan, cukup banyak anak-anak asli Papua yang getol ingin menjadi pilot bahkan ada 8 orang siswa yang kini tengah disekolahkan di beberapa sekolah penerbangan, tetapi dirasa kurang memadai sehingga pihaknya bekerjasama dengan MTC. "Kenapa MTC karena fasilitasnya lebih lengkap bahkan salah satu yang terbaik di tanah air,"ujarnya seraya menambahkan saat ini 8 orang anak asli Papua sedang belajar di beberapa sekolah penerbangan lain akan ditarik untuk dididik di MTC.
Aneh memang tetapi pihaknya tidak mau mengambil resiko kendati miliaran rupiah uang (Rp 75 juta/siswa) sudah dikeluarkan untuk membiayai anak-anak Papua di sekolah penerbangan itu, mengingat kualitas atau skill seorang pilot sangat penting apalagi medan Papua yang berbahaya. "Kami hanya mau yang terbaik, sebab menjadi pilot itu tidak boleh sembarangan, itu salah satu alasan kenapa siswa asal Papua ingin kami dipindahkan ke MTC,"ujarnya.
Hal senada juga ditegaskan Capt Asep bahwa untuk menjadi seorang pilot, tidak boleh main-main, kemampuan skill harus tinggi, karena itu dalam rekruitmen calon siswanya juga harus selektif. "Memang tidak boleh main-main," tukasnya serius.
Kata Capt Asep, terbang di Papua itu unik, ada aturan regulasi yang mengatakan bahwa untuk terbang di Papua, pilot itu harus benar - benar menguasai medan sebab Papua itu pegunungan, sehingga penerbangannya fisual, tidak boleh sembarangan terbang. "Memang terbang di Papua itu sangat unik dan spesifik, harus tunggu cuaca baik baru bisa terbang," katanya.
Menurut guru pilot ini, hanya pesawat yang dalam ketentuan IMC (instrument meteorological condition) yang bisa terbang dalam kondisi cuaca buruk di Papua dengan cuaca yang sangat minim, karena tantangnnya sangat komplit. Pesawat itu boleh terbang jika memenuhi kaidah untuk terbang instrumen. "Jika pesawat visual itu tidak dilengkapi dengan instrumen untuk bisa terbang complit maka dia tidak bisa terbang,"terangnya lagi.
Kata Capt Asep, yang boleh terbang dengan IMC adalah Boeing 737 seri 300 dan 400, tetapi untuk pesawat Twin Otter yang terbang ke pedalaman tidak bisa, sebab pesawat itu memiliki fasilitas alat bantu pendaratan atau lepas landas di daerah sehingga pesawat itu tidak boleh terbang instrumen.
"Dia harus terbang dengan kondisi mata buta melihat cuaca hanya dengan mata telanjang. Jika cuacanya itu tertutup awan maka dia tidak bisa lihat apa-apa dan tentu tidak boleh terbang, makanya Papua areanya sangat unik dan spesifik," paparnya.
Tak hanya itu lanjutnya, cuaca di Papua sangat mudah berubah. Apalagi di pedalaman, landasannya sangat sulit. Jika di tempat lain ketika mendarat pesawat harus mengurangi kecepatan mesin maka di beberapa daerah di Papua ada yang justru kecepatannya ditambah (open power) karena landasannya ada yang menanjak gunung bahkan ada yang memanjat. "Itu yang spesifik dan antik," imbuhnya, sebab harusnya landasan itu datar dan rata.
Karena itu, untuk mendidik anak - anak Papua menjadi pilot di Papua harus benar benar yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Tak heran jika biayanya juga mahal, hanya saja ia tidak menyebutkan berapa estimasi biaya untuk anak-anak Papua itu.
Di Merpati, pilot yang sudah punya jam terbang tinggi sekalipun setiap 6 bulan sekali harus dites previsiensi cek-nya begitu juga dengan pramugari. "Sangat timpang jika melihat dari personal ground yang berhubungan dengan regulation, jadi memang mahal," ujarnya

No comments: